Pelajaran Stoik dari Film Rebel in the Rye: Belajar Hidup Tenang dan Autentik ala Jerome David Salinger
Film biografi sering kali hanya dianggap sekadar tontonan yang menceritakan kisah hidup tokoh terkenal. Namun, Rebel in the Rye (2017) berbeda. Film ini bukan hanya mengisahkan perjalanan Jerome David Salinger—penulis novel legendaris The Catcher in the Rye—tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang bagaimana kita bisa menghadapi hidup dengan lebih tenang, bijak, dan autentik.
Lewat kisahnya, kita bisa menemukan banyak nilai stoikisme, sebuah filsafat kuno yang mengajarkan tentang bagaimana menghadapi kesulitan hidup dengan ketenangan, mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan menerima apa yang berada di luar kuasa kita. Mari kita bahas lebih dalam tiga pelajaran stoik yang bisa kita ambil dari film ini.
1. Ketahanan Mental: Menulis di Tengah Perang
Salah satu bagian paling kuat dari film ini adalah saat Salinger bertugas di Perang Dunia II. Ia melihat langsung kekejaman perang, kehilangan banyak teman, dan mengalami trauma yang mendalam. Namun, di tengah segala kekacauan itu, ia tetap menulis.
Menulis menjadi semacam “jangkar” bagi Salinger. Meski dunia di luar penuh ledakan dan kekerasan, ia berusaha menjaga ketenangan batinnya dengan menuangkan pikiran ke dalam kata-kata. Dari sini, kita belajar pelajaran stoik yang pertama: ketahanan mental.
Stoikisme mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan dunia luar, tapi kita bisa mengendalikan respons kita terhadapnya. Inilah yang dilakukan Salinger: memilih untuk fokus pada hal yang masih dalam genggamannya.
Penerapan sederhana dalam kehidupan sehari-hari:
-
Saat pekerjaan menumpuk atau masalah pribadi terasa berat, berhentilah sebentar dan tanyakan: “Apa yang bisa kulakukan sekarang?”
-
Pecah masalah besar menjadi langkah-langkah kecil. Fokus menyelesaikan satu per satu.
-
Biarkan hal-hal di luar kendalimu berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan begitu, meski dunia terasa kacau, kamu tetap bisa berdiri tegak.
2. Autentisitas: Menolak Mengorbankan Prinsip Demi Ekspektasi
Ada adegan penting dalam Rebel in the Rye ketika Salinger diminta editornya untuk mengubah isi novelnya agar lebih “ramah pasar.” Dari sudut pandang bisnis, itu mungkin masuk akal. Namun, bagi Salinger, mengubah esensi tulisannya sama saja dengan mengkhianati dirinya sendiri.
Ia menolak mengikuti arus industri, meskipun itu berarti menutup beberapa peluang. Bagi Salinger, kejujuran pada diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar meraih popularitas.
Prinsip ini sangat stoik: hidup sesuai nilai diri sendiri, bukan sekadar mengejar validasi orang lain. Filosofi stoik mengingatkan kita bahwa opini orang lain tidak seharusnya menentukan bagaimana kita hidup. Yang terpenting adalah kita menjalani hidup dengan integritas dan keaslian.
Penerapan sederhana:
-
Jangan takut berkata “tidak” jika sesuatu tidak sesuai dengan nilai atau prinsipmu.
-
Jangan terjebak untuk selalu menyenangkan semua orang. Kadang, setia pada diri sendiri berarti menerima risiko ditolak atau tidak dipahami.
-
Ingat bahwa kepuasan sejati datang dari kesesuaian antara tindakan dan hati nurani, bukan dari tepuk tangan orang lain.
3. Refleksi Diri: Menemukan Makna dari Kehidupan
Salah satu kekuatan Salinger adalah kebiasaannya untuk merenung. Ia banyak menulis bukan hanya untuk diterbitkan, tetapi juga untuk dirinya sendiri—sebagai cara memahami pengalaman, kehilangan, dan perasaan.
Film ini menggambarkan bagaimana refleksi membantunya menemukan makna hidup di tengah kebingungan dan rasa sakit. Ia tidak lari dari masalah, tapi menghadapinya dengan pikiran yang dalam dan hati yang jujur.
Dalam stoikisme, refleksi diri adalah latihan penting. Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi sekaligus filsuf stoik, menulis Meditations sebagai catatan pribadi untuk merenungkan hidupnya. Ia menekankan pentingnya menyadari bahwa hidup singkat, sehingga setiap hari harus dijalani dengan penuh kesadaran.
Penerapan sederhana:
-
Sisihkan waktu 5–10 menit sebelum tidur untuk menulis jurnal atau sekadar merenung.
-
Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang sudah kupelajari hari ini? Apa kesalahan yang bisa diperbaiki? Apa makna dari pengalaman ini?
-
Dengan refleksi rutin, kita bisa lebih mengenal diri sendiri dan menemukan arah hidup yang lebih jelas.
Mengapa Film Ini Relevan untuk Kita?
Banyak orang hari ini merasa terjebak dalam tekanan sosial, tuntutan pekerjaan, atau ekspektasi orang lain. Rebel in the Rye hadir sebagai pengingat bahwa kita selalu punya pilihan: tetap setia pada diri sendiri, fokus pada apa yang bisa dikendalikan, dan meluangkan waktu untuk merenung.
Film ini bukan hanya tentang seorang penulis besar, tetapi juga tentang perjalanan manusia mencari makna hidup. Itulah mengapa pesan-pesannya relevan untuk siapa saja—baik kamu seorang penulis, pekerja kantoran, mahasiswa, maupun siapa pun yang sedang mencari ketenangan di tengah dunia yang penuh hiruk pikuk.
Penutup
Dari kisah Jerome David Salinger dalam Rebel in the Rye, kita belajar tiga prinsip stoik yang bisa mengubah cara kita memandang hidup:
-
Ketahanan mental – tetap fokus pada hal yang bisa dikendalikan, bahkan di tengah kekacauan.
-
Autentisitas – setia pada prinsip dan nilai diri sendiri, meski tidak selalu disukai orang lain.
-
Refleksi diri – meluangkan waktu untuk merenung dan menemukan makna dari pengalaman hidup.
Cobalah praktikkan salah satunya hari ini. Misalnya, mulai dengan menulis hal-hal kecil yang kamu syukuri atau dengan berani berkata “tidak” pada sesuatu yang tidak sesuai hatimu.
Hasilnya? Hidup yang lebih tenang, bermakna, dan autentik—meski dunia di luar sana tetap penuh tekanan.
Komentar