Perjalanan Saya Bersama YouTube: Dari Desa Tanpa Sinyal hingga Menjadi Konten Kreator
Perjalanan Saya Bersama YouTube: Dari Desa Tanpa Sinyal hingga Menjadi Konten Kreator
Bayangan Tentang Sebuah Ruang
Bayangkan kamu memiliki sebuah ruang. Ruang itu sederhana, tapi ajaib. Ia bisa menyimpan semua ide, pemikiran, opini, hingga cerita hidupmu. Tidak berhenti di sana saja, ruang itu juga bisa menyulap semuanya menjadi nyata, abadi, dan tetap ada sampai kapan pun.
Setiap orang punya cara masing-masing untuk menyimpan kenangan. Ada yang menulis di buku harian, ada yang memotret lalu menyimpannya di album, ada juga yang lebih suka bercerita kepada orang-orang terdekat. Bagi saya, ruang itu bernama YouTube.
YouTube bukan hanya sekadar tempat berbagi video. Bagi saya, ia adalah perpustakaan pribadi yang bisa terus hidup bahkan ketika saya sudah tidak ada. Di sanalah saya ingin menitipkan cerita, perjalanan, sekaligus jejak yang mungkin akan dikenang oleh generasi setelah saya.
Namun, perjalanan saya bersama YouTube bukanlah kisah yang mulus sejak awal. Ia berawal dari sebuah kampung kecil, jauh dari jangkauan sinyal, dengan keterbatasan alat, tapi penuh rasa penasaran dan semangat belajar.
Pertemuan Pertama dengan YouTube
Saya pertama kali mengenal YouTube sekitar tahun 2014. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP di sebuah kota kecil. Bagi banyak orang di kota besar, internet mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi bagi saya yang berasal dari pedalaman, sinyal adalah barang langka.
YouTube awalnya hanya saya dengar dari teman-teman dan guru. Saya hanya bisa membayangkan seperti apa bentuknya. Hingga suatu hari, seorang guru memutar sebuah video motivasi lewat laptopnya. Saya masih ingat betul bagaimana saya terkesima melihat ada begitu banyak video yang menarik dan inspiratif di sana.
Namun dalam hati kecil saya muncul pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu: “Bagaimana cara orang membuat video seperti itu? Apakah harus punya kamera mahal? Apakah harus punya komputer yang canggih? Kalau saya bisa bikin video tentang diri saya dan ditonton banyak orang, pasti seru sekali. Tapi gimana caranya?”
Sayangnya, semua pertanyaan itu hanya berani saya ucapkan dalam hati. Saya tidak cukup percaya diri untuk mengatakannya. Takut dianggap konyol. Takut ditertawakan. Apalagi saya sadar, saya bahkan tidak punya HP.
Ketika akhirnya orang tua membelikan HP untuk saya, itu pun hanya ponsel sederhana yang bisa digunakan untuk telepon dan SMS. Kami menyebutnya HP Nokia Black Senter—ya, ponsel kecil Nokia dengan lampu senter di bagian atasnya. Itu saja sudah menjadi barang berharga di masa itu.
Dari HP Pertama Hingga Channel Pertama
Waktu berjalan, dan teknologi pelan-pelan semakin dekat dengan saya. Ketika masuk SMA, saya akhirnya memiliki HP dengan kamera. Sederhana memang, tapi bagi saya itu adalah pintu menuju dunia baru.
Rasa penasaran yang sudah lama saya pendam akhirnya menemukan jalannya. Dengan penuh rasa ingin tahu, saya mengetik di kolom pencarian YouTube: “cara biar bisa kirim video dan banyak orang lihat saya.”
Hasil pencarian itu menuntun saya pada sebuah video tutorial. Video itu menjelaskan langkah demi langkah membuat akun Google, email, hingga channel YouTube. Saya ikuti dengan seksama. Saya coba praktikkan, meski penuh kendala.
Bayangkan, HP saya waktu itu speknya sangat terbatas. Prosesnya lambat sekali. Ditambah lagi internet pada masa itu hanya 2G atau H+. Setiap kali mengunggah, saya harus menunggu lama. Sering kali gagal, tapi rasa penasaran membuat saya tidak berhenti mencoba.
Akhirnya, lahirlah channel YouTube pertama saya.
Isinya? Jangan bayangkan sesuatu yang luar biasa. Hanya video-video sederhana: kegiatan di sekolah, momen pulang kampung, atau aktivitas sehari-hari yang sangat biasa. Tapi buat saya, itu sudah luar biasa. Ada rasa bangga yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti sudah jadi artis.
Belajar, Bertumbuh, dan Terus Mencoba
Itulah awal saya mengenal YouTube. Dari situ, saya semakin tertarik dengan dunia videografi. Walaupun bingung karena tidak tahu cara mengedit video, saya tetap mencoba.
Perlu diingat, pada masa itu aplikasi editing video sangat terbatas. Tidak seperti sekarang, yang dengan mudahnya kita bisa menemukan aplikasi gratis dengan fitur lengkap. Jadi setiap kali ingin mengedit, saya benar-benar harus bersabar.
Masa-masa SMK menjadi momen belajar yang berharga. Saya lumayan sering membuat video, meski tidak terlalu aktif. Jika saya melihat kembali channel lama saya, ada belasan video yang tersimpan di sana. Sayangnya, saya tidak bisa membukanya lagi karena lupa password.
Namun, cinta saya terhadap dunia videografi tidak hilang. Saya terus belajar, sedikit demi sedikit. Walaupun tidak merasa jago, setidaknya saya bisa membuat video yang lebih rapi.
Dari Hobi Jadi Prestasi
Perjalanan itu semakin berkembang ketika saya lulus sekolah dan mulai bekerja di sebuah lembaga keuangan bernama Credit Union (CU). Pekerjaan saya membuat saya sering bepergian ke berbagai kampung, dan di sanalah saya mulai terbiasa mengabadikan perjalanan dalam bentuk video.
Suatu hari, lembaga tempat saya bekerja mengadakan lomba film pendek. Saya melihatnya sebagai kesempatan emas. Bersama teman-teman kantor, kami membuat film sederhana dengan alat seadanya—hanya bermodalkan HP.
Saya berusaha membuatnya sebaik mungkin, serapi mungkin. Dan hasilnya sungguh mengejutkan: kami berhasil menjadi juara satu!
Lebih mengejutkan lagi, film tersebut diikutsertakan dalam event tingkat lanjut di Malaysia. Rasanya luar biasa.
Tidak berhenti di situ. Kami diminta kembali membuat film lain. Masih dengan modal HP, kami berhasil juara satu lagi. Kali ini, event-nya diadakan langsung di Kuching, Malaysia.
Siapa sangka, dari sekadar hobi sederhana, saya bisa sejauh itu?
Karier di Dunia Digital
Pengalaman itu membawa semangat baru. Saya semakin sering membuat video perjalanan, semakin serius belajar, dan semakin cinta dengan dunia videografi.
Sampai akhirnya, saya dipindahkan ke kantor pusat untuk mengisi bagian digital sebagai konten kreator. Di sana, saya memproduksi banyak sekali video untuk lembaga tempat saya bekerja.
Hari-hari saya tidak pernah lepas dari kamera, aplikasi editing, dan semua hal yang berhubungan dengan videografi. Rasanya menyenangkan sekali, karena pekerjaan itu seperti hobi yang dibayar.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang membuat saya sedikit menyesal: channel pribadi saya terbengkalai.
Babak Baru: Kembali ke YouTube
Akhirnya, perjalanan membawa saya ke titik baru. Saya memutuskan untuk resign dan beralih profesi menjadi guru.
Bagi saya, ini bukan kebetulan. Saya percaya ini adalah panggilan hidup. Dan dari titik inilah, saya kembali menatap YouTube.
Saya ingin memulai babak baru.
Tujuan Saya Hari Ini
Tujuan saya sederhana. Saya ingin menyampaikan ide, pikiran, opini, dan hobi saya. Tapi yang paling penting, saya ingin menjadikan YouTube sebagai ruang penyimpanan kenangan.
Saya membayangkan 5, 10, 20, bahkan 50 tahun ke depan, ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, video-video saya masih ada. Generasi setelah saya—anak, cucu, atau siapa pun—bisa melihat dan mengenang apa yang pernah saya bagikan.
Kalau bisa dimonetisasi? Syukur. Lumayan untuk tambahan penghasilan. Tapi itu bukan tujuan utama.
Tujuan utama saya adalah membangun portofolio, mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan, dan melatih kemampuan komunikasi melalui video.
Saya percaya, di era digital sekarang, tidak ada yang mustahil. Bisa jadi apa yang saya bagikan di YouTube bermanfaat, atau setidaknya bisa menghibur orang lain.
Resolusi Awal
Saya tahu, perjalanan ini masih panjang. Saya sadar, jalan ke depan tidak selalu mudah. Tapi saya yakin saya mampu melangkah.
Target awal saya sederhana: membuat 10 video dalam satu bulan pertama di channel baru saya.
Itulah cerita saya. Sebuah perjalanan panjang yang bermula dari desa kecil tanpa sinyal, berkembang dengan segala keterbatasan, hingga akhirnya kembali memulai dengan semangat baru.
Masih banyak cerita yang belum sempat saya bagikan. Tapi saya percaya, selama saya terus berkarya, cerita itu akan menemukan jalannya.
Sampai jumpa di cerita berikutnya.
Komentar