Senin Pagi di Balik Secangkir Kopi: Cerita, Refleksi, dan Tujuan

 Senin, 15 September 2025

Alaram berbunyi menunjukan jam 06.20 ketika aku membuka mata. Cahaya pagi menyelinap masuk lewat celah gorden, menimpa wajahku dengan hangat yang samar. Nafas pertamaku terasa agak berat, dada masih sesak, hidung mampet, dan tenggorokan gatal. Namun tubuhku cukup segar—cukup untuk bangun dan menyambut hari.

Begitu aku keluar kamar, mataku langsung menangkap ruang tamu yang masih berantakan. Ada bantal berserakan, buku tak tertata, dan gelas kosong di meja. Seketika aku menghela napas. Rupanya adik perempuanku masih tertidur lelap. Aku pun berjalan ke kamarnya, mengetuk pintu, lalu membangunkannya dengan suara agak tegas.
“Bangun, jangan keseringan begadang. Kurangi main HP malam-malam,” kataku.
Ia hanya meringis kecil, lalu menurut. Perlahan ia berdiri, menyeret langkah ke kamar mandi, dan bersiap berangkat sekolah. Untunglah rumah kami berada tepat di belakang sekolah, hanya dipisahkan oleh lapangan bola kecil dan lapangan voli dengan tiang net yang catnya sudah mulai pudar. Jadi meskipun bangun agak siang, jarak tidak pernah menjadi masalah.

Aku sendiri hari ini tidak ikut upacara. Badan belum fit, kepala masih berat, tapi aku tidak mau menyerah begitu saja. Di halaman belakang, aku melakukan olahraga ringan. Suara sepatuku menjejak lantai, napas terengah, dan keringat perlahan menetes di pelipis. Rasanya tubuh mulai hangat, otak pun lebih terjaga. Lima belas menit itu cukup untuk membuatku merasa hidup kembali.

Usai olahraga, aku duduk di meja kerja. Laptop terbuka, buku catatan di sisi kanan, secangkir kopi susu hangat mengepulkan uap tipis di sebelah kiri. Aroma kopi bercampur manisnya susu creamer perlahan memenuhi ruangan—menjadi teman setia untuk menulis. Beginilah rutinitas baruku: 20 menit kedua setelah bangun, aku gunakan untuk journaling. Aku menulis tentang apa yang kusyukuri, tujuan yang ingin kucapai, dan refleksi atas hal-hal yang kemarin belum sempat aku lakukan.

Namun, ada satu kebiasaan buruk yang belum bisa kutinggalkan: sebatang rokok di sela-sela aktivitas pagi. Asapnya menari-nari di udara, meninggalkan jejak tipis di ruang kecil ini. Aku tahu, tubuhku sedang tidak sehat dan rokok hanya memperburuk keadaan. Tapi setidaknya sekarang aku sudah menguranginya, selangkah kecil menuju berhenti total. Semoga suatu hari nanti benar-benar bisa lepas.

Saat asyik menulis, tiba-tiba aku tersentak. Suara samar mendesis di dapur mengingatkanku bahwa aku sedang merebus air. Aku langsung berlari, khawatir air sudah habis dan ceret gosong. Begitulah aku—pelupa untuk hal-hal sederhana seperti ini. Anehnya, untuk kenangan masa kecil yang bahkan orang tuaku sudah lupa, aku justru bisa mengingatnya dengan jelas.

Kembali ke meja, aku melanjutkan daftar tujuan hari ini. Ada beberapa hal yang ingin aku selesaikan:

  1. Membuat video Ukin PPG milik Pak Banjir sesuai jadwal.

  2. Menyelesaikan editing video Bu Widi yang kemarin kami rekam.

  3. Mengajar Bahasa Indonesia untuk siswa kelas 7.

  4. Merampungkan perangkat ajar yang beberapa hari terakhir tertunda karena badan tidak enak.

  5. Melatih tim voli putri sekolah di sore hari.

  6. Melanjutkan editing video di malam hari.

  7. Menyempatkan me time: membaca buku, membuat konten, atau menonton.

  8. Menghubungi seseorang yang kusayang, yang kini jauh karena hubungan jarak jauh.

  9. Menutup hari dengan istirahat yang cukup.

Begitulah agendaku hari ini. Sederhana, tapi penuh warna. Dari aroma kopi hangat, suara langkah pagi, hingga kekhawatiran kecil di dapur—semuanya menjadi bagian dari cerita yang membentuk hari ini.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kehadiranmu membuktikan bahwa tidak semua orang di negeri ini minim literasi—ada juga yang setia membaca dengan penuh perhatian. Semoga harimu menyenangkan, penuh semangat, dan membawa kebaikan.


Salam hangat,
Dedi Tamorant 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Social Media Detox: Breaking Free from the Scroll

Pagi Baru, Hidup Baru: Perjalanan Satu Minggu Mengubah Kebiasaan Kecil

Pagi Minggu yang Hangat: Kombinasi Santai dan Produktif