Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Perjalanan Saya Bersama YouTube: Dari Desa Tanpa Sinyal hingga Menjadi Konten Kreator

  Perjalanan Saya Bersama YouTube: Dari Desa Tanpa Sinyal hingga Menjadi Konten Kreator Bayangan Tentang Sebuah Ruang Bayangkan kamu memiliki sebuah ruang. Ruang itu sederhana, tapi ajaib. Ia bisa menyimpan semua ide, pemikiran, opini, hingga cerita hidupmu. Tidak berhenti di sana saja, ruang itu juga bisa menyulap semuanya menjadi nyata, abadi, dan tetap ada sampai kapan pun. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menyimpan kenangan. Ada yang menulis di buku harian, ada yang memotret lalu menyimpannya di album, ada juga yang lebih suka bercerita kepada orang-orang terdekat. Bagi saya, ruang itu bernama YouTube . YouTube bukan hanya sekadar tempat berbagi video. Bagi saya, ia adalah perpustakaan pribadi yang bisa terus hidup bahkan ketika saya sudah tidak ada. Di sanalah saya ingin menitipkan cerita, perjalanan, sekaligus jejak yang mungkin akan dikenang oleh generasi setelah saya. Namun, perjalanan saya bersama YouTube bukanlah kisah yang mulus sejak awal. Ia berawal dar...
Gambar
Pelajaran Stoik dari Film Rebel in the Rye : Belajar Hidup Tenang dan Autentik ala Jerome David Salinger Pembahasan Lengkap Versi Video https://youtu.be/Xh3moJNsCWo?si=dCqpTFl4cth77jPk Subcribe Youtube MOVIE INS ID https://www.youtube.com/@movieinsid Film biografi sering kali hanya dianggap sekadar tontonan yang menceritakan kisah hidup tokoh terkenal. Namun, Rebel in the Rye (2017) berbeda. Film ini bukan hanya mengisahkan perjalanan Jerome David Salinger—penulis novel legendaris The Catcher in the Rye —tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang bagaimana kita bisa menghadapi hidup dengan lebih tenang, bijak, dan autentik. Lewat kisahnya, kita bisa menemukan banyak nilai stoikisme, sebuah filsafat kuno yang mengajarkan tentang bagaimana menghadapi kesulitan hidup dengan ketenangan, mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, dan menerima apa yang berada di luar kuasa kita. Mari kita bahas lebih dalam tiga pelajaran stoik yang bisa kita ambil dari film ini. 1. Ketahanan Men...

Sarapan Sederhana, Murah, dan Sehat: Teman Setia Memulai Hari

Gambar
Sarapan Sederhana, Murah, dan Sehat: Teman Setia Memulai Hari Pernah nggak kamu bangun pagi dengan rasa malas, mata masih berat, dan tubuh enggan beranjak dari tempat tidur? Jujur saja, aku sering. Tapi ada satu hal yang selalu bisa membuatku semangat di pagi hari: sarapan sederhana . Sarapan bukan sekadar mengisi perut kosong. Buatku, sarapan adalah momen kecil untuk menyapa diri sendiri, memberi tubuh energi, dan bilang, “Ayo, hari ini kita kuat!” Dan menariknya, sarapan sehat itu tidak harus mahal atau rumit. Bahkan, beberapa menu favoritku bisa dibuat hanya dalam beberapa menit, dengan bahan yang ada di dapur, dan tetap kaya gizi untuk mendukung pertumbuhan tubuh. Di bawah ini, aku ingin berbagi beberapa menu sarapan sederhana yang sering menemaniku, lengkap dengan manfaat gizinya. Siapa tahu bisa jadi sahabat pagi kamu juga. 1. Tempe Goreng: Si Klasik yang Selalu Setia Ada sesuatu yang hangat dari aroma tempe goreng di pagi hari. Gurih, renyah di luar, lembut di dalam. Dulu waktu ...

Pagi Baru, Hidup Baru: Perjalanan Satu Minggu Mengubah Kebiasaan Kecil

Gambar
  Pagi yang Mengubah Hidupku (Sebuah catatan tentang kebiasaan kecil, ketenangan, dan kebangkitan) Dulu, pagi adalah waktu yang paling kusesali. Aku kerap terbangun dalam keadaan tergesa, mata masih berat, tubuh seperti memikul sisa-sisa malam yang tak selesai. Semua terasa kabur dan terburu-buru. Sarapan hanya angan, pikiran sudah kalut bahkan sebelum sempat menata nafas. Begadang menjadi kebiasaan yang diam-diam menggerogoti hidupku. Aku melewatkan terlalu banyak kesempatan, membuang hari-hari berharga dalam kabut kelelahan dan rasa bersalah. Aku merasa hidupku berjalan, tapi tidak benar-benar hidup. Sampai suatu pagi aku bertanya pada diriku sendiri: “Mau sampai kapan aku membiarkan hari-hariku berlalu tanpa arah?” Pertanyaan itu pelan tapi tajam—membelah keraguan dan keenggananku sendiri. Aku ingin berhenti mengejar waktu yang terus melesat tanpa aku sempat hadir di dalamnya. Aku ingin hari-hariku lebih bermakna, lebih utuh, lebih produktif, dan lebih damai. Kemudian...

Social Media Detox: Breaking Free from the Scroll

Gambar
  Social Media Detox, Dopamin, dan Hidup Stoik di Era Digital Dalam laporan Hootsuite / Statista 2025 disebutkan bahwa ada sekitar 5,17 miliar orang di dunia yang aktif menggunakan media sosial. Rata-rata pengguna menghabiskan sekitar 2 jam 21 menit per hari di platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan lain-lain. Social Media Dashboard +2 Mind Jumpers +2 Data tambahan menunjukkan bahwa mayoritas pengguna media sosial mengaksesnya melalui perangkat mobile—lebih dari 95% penggunaan terjadi lewat ponsel. Priori Data +1 Dampak Psikologis & Fisiologis Kajian ilmiah memperlihatkan hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan sejumlah masalah mental dan fisik: Sistematis review “Influencing Factors of Social Media’s Negative Impacts on Adolescents’ Mental Health” menunjukkan bahwa perbandingan sosial (social comparison), cyberbullying, kecanduan media sosial, dan fear of missing out (FoMO) adalah faktor-katalis yang meningkatkan kecemasan, depres...

Senin Pagi di Balik Secangkir Kopi: Cerita, Refleksi, dan Tujuan

  Senin, 15 September 2025 Alaram berbunyi menunjukan jam 06.20 ketika aku membuka mata. Cahaya pagi menyelinap masuk lewat celah gorden, menimpa wajahku dengan hangat yang samar. Nafas pertamaku terasa agak berat, dada masih sesak, hidung mampet, dan tenggorokan gatal. Namun tubuhku cukup segar—cukup untuk bangun dan menyambut hari. Begitu aku keluar kamar, mataku langsung menangkap ruang tamu yang masih berantakan. Ada bantal berserakan, buku tak tertata, dan gelas kosong di meja. Seketika aku menghela napas. Rupanya adik perempuanku masih tertidur lelap. Aku pun berjalan ke kamarnya, mengetuk pintu, lalu membangunkannya dengan suara agak tegas. “Bangun, jangan keseringan begadang. Kurangi main HP malam-malam,” kataku. Ia hanya meringis kecil, lalu menurut. Perlahan ia berdiri, menyeret langkah ke kamar mandi, dan bersiap berangkat sekolah. Untunglah rumah kami berada tepat di belakang sekolah, hanya dipisahkan oleh lapangan bola kecil dan lapangan voli dengan tiang net yang ...